Tampilkan postingan dengan label Sandiwarapemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sandiwarapemuda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Mei 2017

Kisah Si Pitung Pahlawan dari Tanah Betawi Yang Belum Pernah Diungkap

Kisah Si Pitung Pahlawan dari Tanah Betawi Yang Belum Pernah Diungkap


Pitung atau Pituan Pitulung adalah salah satu organisasi perlawanan rakyat Jakarta yang dibentuk pada tahun 1880 Masehi oleh Kyai Haji Naipin atas saran dari Pejuang Jayakarta dan Sesepuh adat Tempo Dulu. Kyai Haji Naipin adalah seorang yang alim dan juga dikenal sebagai salah satu ahli silat yang handal di kawasan Tenabang.

PITUNG didirikan setelah seluruh anggotanya melewati beberapa tes seperti ujian jurus terakhir illmu silat, ujian ilmu agama yang sudah mereka pelajari, ujian ilmu tarekat serta diakhiri dengan khataman Al-Qur’an yang diikuti oleh 7 santri terbaik Kyai Haji Naipin. Setelah dinyatakan lulus maka ketujuhnya dibaiat untuk selalu setia dalam jihad fisabillah, setia terhadap persahabatan, selalu menolong rakyat dan hormat dan patuh terhadap orangtua, ulama dan sesepuh adat.

Nama Pitung yang berarti 7 Pendekar Penolong, mengambil dari inspirasi Surat Al Fatehah yang terdiri dari 7 ayat. Oleh karena itu ke 7 Pendekar ini selalu ditekankan untuk terus menghayati dan mengamalkan kandungan Surat Al Fatehah dalam setiap perjuangan mereka.

Diantara ke 7 Pendekar itu maka kemudian dipilihlah yang paling terbaik untuk menjadi pemimpin, jatuhlah pilihan itu kepada salah satu murid yang paling dicintai KH Naipin yaitu Radin Muhammad Ali Nitikusuma. KH Naipin memang sangat sayang pada sosok ini, karena sejak kecil Radin Muhammad Ali adalah seorang Yatim dan beliau juga tahu bagaimana kisah terbunuhnya ayah Muhammad Ali. Sedangkan ibunya telah menikah lagi dengan salah seorang duda yang mempunyai anak yang berada di daerah Kemanggisan. Kasih sayang ulama sufi ini juga sangat wajar karena dia adalah paman Radin Muhammad Ali.

Beliau Radin Muhammad Ali Nitikusuma adalah sosok yang alim dan soleh, pewaris silat Kyai Haji Naipin dan silat-silat warisan pejuang Jayakarta. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dan pantang kompromi dengan penjajah kafir. Ayahnya syahid dibunuh penghianat bangsa yang diantaranya para Tuan Tanah China dan centeng-centeng bayarannya, harta bendanya dirampas dan keluarga besarnya banyak yang diburu dan difitnah. Beliau yatim sejak umur dua tahun. Di mata penjajah sosok ini lebih dikenal sebagai perampok daripada pejuang.

Orang kedua yang juga tidak kalah hebatnya adalah Ratu Bagus Muhammad Roji’ih Nitikusuma. Dialah otak dibalik semua strategi perlawanan gerakan Pitung. Dikenal licin dan sulit untuk ditangkap. Namanya sering disebut sebagai Ji’ih. Sosoknya alim dan Soleh dan dikenal sangat keras perlawanannya terhadap penjajah kafir. Dia tidak seperti yang digambarkan dalam beberapa film. Dia justru sangat cerdas dan penuh perhitungan.

5 orang lagi juga tidak kalah hebatnya, mereka adalah Abdul Qodir, Abdus Shomad, Saman, Rais, Jebul ( Ki Dulo/Abdulloh). Salah satu dari mereka yaitu Bang Jebul dengan hanya berapa gebrakan jurus “Sira Macan” bahkan pernah membuat babak belur Schout Van Hinne dalam sebuah adu tanding silat di Tangerang sehingga dari kejadian inilah Hinne menjadi sangat dendam terhadap semua anggota Pitung karena merasa telah dipermalukan di depan khalayak ramai. Hinne juga pernah kena batunya saat semua Anggota Pitung menangkapnya di daerah Jelambar. Disini dia dan pasukan marsosenya dihajar habis-habisan. Pasukan Marsosenya yang terkenal sadis lari terbirit birit ketika berhadapan dengan Pitung. Anggota Pitung kesal karena Hinne ini memfitnah Pitung dan mengancam beberapa orang yang pro terhadap perjuangan Pitung. Tapi semua anggota Pitung masih memberikan kesempatan dia hidup dengan catatan dia tidak menindas rakyat dan tidak memfitnah Pitung sebagai gerombolan perampok.
Seperti pada sebuah perjuangan pasti ada resiko..dua orang anggota Pitung yaitu Jebul dan Saman pada tahun 1896 pernah tertangkap dan dipenjarakan di Glodok. Namun mereka berhasil meloloskan diri bahkan berhasil membunuh beberapa marsose. Beberapa anggota Pitung juga harus mengalami mati syahid. Dji’ih tertembak tahun 1899 Masehi, jenazahnya masih bisa diselamatkan. Radin Muhammad Ali syahid ditembak tahun 1905 Masehi. Beliau ditembak bertubi tubi oleh para Marsose sampai akhirnya rubuh, namun sampai detik detik kematiannya dia tidak menyerah dan terus bertakbir.

Setelah Syahid jasad Muhammad Ali dimutilasi penjajah kafir melalui para inlander yg menjadi “anjing anjing penjajah” yang rela menindas saudaranya sendiri. Jasad Muhammad Ali yang tidak sempurna kemudian disholatkan oleh para alim ulama di kawasan Slipi dan sekitarnya untuk kemudian dimakamkan di daerah Bandengan. Para ulama dan sesepuh yang berada di daerah Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya) sangat berduka dengan kematian salah satu pejuang terbaik mereka.

Pitung adalah fakta sejarah, kisah mereka tercatat dalam kitab Al Fatawi, kisah mereka adalah kisah perlawanan kaum muslimin yang tertindas oleh penjajah kafir dan antek anteknya Mereka adalah Mujahid Sejati yang membela agama Islam dan rakyat Jakarta, mereka bukan Perampok, mereka orang orang terpelajar dan juga mengerti tentang dunia politik yang diterapkan penjajah.

Kisah mereka tentu tidak akan pernah sesuai dengan kisah yang berasal dari penjajah kafir baik itu melalui koran mereka ataupun para sejarawan kolonialis yang memang bekerja untuk kepentingan penjajah. Penjajah pada masa itu dengan politik devide et imperanya bahkan berusaha untuk menciptakan Pitung-Pitung palsu untuk memancing Pitung Pitung asli keluar dari persembunyian. Bahkan saat syahidnya Radin Muhammad Ali , salah satu fihak yang menjebaknya mengaku sebagai Pitung asli.

Para anggota Pitung adalah manusia biasa, mereka tidak mempunyai ilmu macam-macam apalagi sampai memakai jimat seperti yang disebarkan beritanya oleh Belanda kalau Pitung Sakti mandraguna. Isu peluru emaspun dibuat-buat dan disebarkan kepada masyarakat agar Radin Muhammad Ali dianggap sosok sakti namun ternyata Belanda ternyata bisa membunuhnya, Belanda menciptakan cerita fiktif seperti ini agar masyarakat semakin takut. Jasadnya sengaja dimutilasi agar masyarakat kehilangan jejak sejarahnya dan juga tidak bisa lagi menziarahi makamnya. Namun sekalipun jasadnya terpencar kisah kepahlawanan pejuang tangguh ini tidak akan pernah hilang dari tanah Jakarta ini. Kematian dua orang dedengkot Pitung tentu mengguncangkan perasaan keluarga besar mereka yang ada di wilayah Jipang Pulorogo (kini merupakan daerah Slipi, Palmerah, Kemanggisan, Rawa Belong, Kemandoran dan sekitarnya), sehingga akhirnya banyak dari mereka yang trauma dan menutup diri terhadap fihak luar (terutama oknum-oknum pendatang yang telah setia menjadi “anjing-anjingnya penjajah”) Mereka betul-betul semakin terpukul karena kematian dua orang Mujahid itu telah melibatkan oknum-oknum bayaran pribumi yang disewa para tuan tanah china dan penjajah kafir..lagi-lagi politik devide et impera dimunculkan.

Pasca kematian dua orang tokoh utama Pitung, penjajah semakin gencar membuat berita dan kabar bohong tentang Pitung, digambarkan kalau Pitung itu identik dengan ilmu-ilmu yang aneh dan senang pakai jimat, padahal semua anggota Pitung hanya diajarkan ilmu beladiri dan juga ilmu ilmu agama seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqih, Ilmu Hadist, Ilmu Tassawuf, Ilmu Tauhid, Ilmu Alat dan juga pengetahuan tentang strategi-strategi perlawanan. Mereka juga melek terhadap dunia politik yang berkembang pada masa itu, sehingga karena lengkapnya pengetahuan mereka, penjajah menghabisi gerakan ini sampai ke akar akarnya yang salah satunya dengan cara menghancurkan sejarah asli Pituan Pitulung, tidak heran ada kabar bahwa Pitung katanya orang China, Pitung katanya dari daerah luar, padahal semua anggota Pitung pribumi asli Jakarta yang sudah menetap ratusan tahun.

PITUAN PITULUNG….1 untuk 7….7 untuk 1

7 Golok adalah jiwa kesatria mereka
Allah SWT Dasar hidup mereka
Rasulullah SAW panutan suci mereka

Al Fatehah untuk KH Naipin, Asy-Syahid Radin Muhammad Ali Nitikusuma, Asy-Syahid Ratu Bagus Muhammad Roji’ih Nitikusuma, Abdul Qodir, Abdus Shomad, Rais, Saman, Abdullah (Jebul)

Disarikan dari KITAB AL FATAWI yang dtulis ulang dari tulisan lama ke dalam bahasa arab melayu oleh Al Allamah Asy-Syekh KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i/Kumpi Syari/Babe Betawi) atas perintah Guru Mansur Sawah Lio tahun.

Sumber: Kitab AlFatawi

Kisah Pemikul Tandu Jenderal Sudirman Yang Terlupakan

Kisah Pemikul Tandu Jenderal Sudirman Yang Terlupakan

Para pemikul tandu Jenderal Soedirman Anda mungkin tak akan lupa foto yang ada di buku sejarah. Kalau melihat gambar hitam putih ada orang ditandu, kita langsung berpikir. Jederal Sudirman. Kini tandu tersebut diabadikan di museum Museum Satria Mandala

tandu itu kini di museum Museum Satria Mandala Lalu bagaimana dengan nasib para pemikul tandunya? Berikut tulisan tentang nasib mereka yang saya ambil dari malangraya.web.id Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia memang takkan pernah dilupakan rakyat. Akan tetapi, tak banyak sosok pejuang yang bisa diingat rakyat. Djuwari (82 tahun), barangkali satu dari sekian banyak pejuang yang terlupakan. Kakek yang pernah memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman itu, kini masih berkubang dalam kemiskinan.

Djuwari berdomisili di Dusun Goliman Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri, kaki Gunung Wilis. Kampungnya merupakan titik start rute gerilya Panglima Besar Sudirman Kediri-Nganjuk sepanjang sekitar 35 km.

Dari Malang, dusun Goliman bisa ditempuh dalam waktu sekitar empat jam perjalanan darat. Kabupaten Kediri lebih dekat di tempuh lewat Kota Batu, melewati Kota Pare Kediri hingga menyusur Tugu Simpang Gumul ikon Kabupaten Kediri. Terus melaju ke jurusan barat, jalur ke Dusun Goliman tak terlalu sulit ditemukan.

Sejam melewati jalur mendaki di pegunungan Wilis, Malang Post pun tiba di pedusunan yang tengah diterpa kemarau. Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman memang sangat jauh dari keramaian kota. Titik start gerilya berada di kampung yang dikepung bukit-bukit tinggi dan tebing andesit.
“Inggih leres, kulo Djuwari, ingkang nate manggul Jenderal Soedirman, sampeyan saking pundi?” kata seorang kakek yang tengah duduk sambil memegang tongkat di sudut rumah warga Dusun Goliman.

Melihat sosok Djuwari tak nampak kegagahan pemuda berumur 21 tahun yang 61 tahun lalu memanggul Panglima Besar. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari. Sorot mata kakek 13 cucu itu masih menyala, menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan. Sang pemanggul tandu Panglima Besar itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. Sehingga angin pegunungan serta mata manusia bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan.
Rumah-rumah di Dusun Goliman termasuk area kediaman Djuwari tak begitu jauh dari kehidupan miskin. Beberapa rumah masih berdinding anyaman bambu, jika ada yang bertembok pastilah belum dipermak semen. Sama halnya dengan kediaman Djuwari yang amat sederhana dan belum dilengkapi lantai.
“Sing penting wes tau manggul Jenderal, Pak Dirman. Aku manggul teko Goliman menyang Bajulan, iku mlebu Nganjuk,” ujar suami almarhum Saminah itu ketika ditanya balas jasa perjuangannya.
Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada sang Jenderal) adalah kebanggaan luar biasa. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku memanggul tandu jenderal merupakan pengabdian. Semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apapun.

Sepanjang hidupnya menjadi eks pemanggul tandu Soedirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu Panglima Besar. Pernah suatu kali diberi uang Rp 500 ribu, setelah itu belum ada yang datang membantu. Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras. “Biyen manggule tandu yo gantian le, kiro-kiro onok wong pitu, sing melu manggul teko Goliman yaiku Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) karo Djoyo dari (warga Goliman),” akunya.

Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Soedirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi, dengan dikawal banyak pria berseragam. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa. “Teko Bajulan (Nganjuk), aku karo sing podho mikul terus mbalik nang Goliman. Wektu iku diparingi sewek (jarit) karo sarung,” imbuhnya.

Ayah dari empat putra dan empat putri itu menambahkan, waktu itu, istrinya (sudah dipanggil Tuhan setahun lalu) amat senang menerima sewek pemberian sang Jenderal.
Saking seringnya dipakai, sewek itupun akhirnya rusak, sehingga kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya.
“Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh,” katanya.
Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Putra Kastawi dan Kainem itu masih memiliki kisah dan semangat masa-masa perang kemerdekaan. Ketika ditanya soal periode kepemimpinan Presiden Soekarno hingga SBY, Djuwari dengan tegas mengatakan tidak ada bedanya.

Sumber http://historysander.blogspot.co.id/2013/01/kisah-pemikul-sudirman

Kisah sedih Teuku umar Sang Penyumbang Emas Tugu Monas Jakarta

Kisah Sedih Teuku Markam Asal Aceh Sang Penyumbang Emas Tugu Monas Jakarta



Siapa yang tidak tau dengan TUGU MONAS jakarta, Terkhusus untuk
warga Negara indonesia. Monumen Nasional tersebut populer disingkat dengan nama Monas, Tugu Monas adalah monumen yang memilki tinggi 132 meter "433 kaki" Tugu Monas tersebut didirikan untuk mengenang jasa para perlawanan dan para pejuang Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari Belanda.

Pembangunan monumen Tugu Monas dimulai pada 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden indonesia Sukarno, Tugu Monas dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Tugu Monas ini dimahkotai dengan lidah api yang dilapisi oleh lembaran emas yang melambangkan sebagai semangat para perjuangan yang menyala-nyala. Tugu Monas terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Ternyata kita baru mengetahui 38 kg emas yang dipajang di puncak Tugu Monas "Monumen Nasional", 28 kg emas di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam, Teuku Markam merupakan salah seorang saudagar dari Aceh, beliau pernah menjadi orang terkaya seluruh Indonesia. Sekarang mungkin kita tidak mengenal Teuku Markam tapi pada zaman itu Teuku Markam merupakan saudagar terkaya yang sangat baik hati

Orang-orang hanya mengetahui bahwa emas itu memang benar sumbangan saudagar asal Aceh. Namun tak banyak yang mengetahui, ternyata Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu. Itu baru segelintir jasa beliau untuk kepentingan negeri ini. Karya Teuku Markam lainnya adalah, beliau membebaskan lahan Senayan Jakarta untuk dijadikan pusat olahraga terbesar di Indonesia. Teuku Markam juga Memberikan sumbangan dana kepada orde lama untuk membangun jalan Banda Aceh-Medan, dan juga sumbangan dana  untuk pembangunan insfrastruktur di Aceh dan juga di Jawa Barat, Teuku Markam juga menyumbangkan dana untuk pembangunan jalan-jalan yang ada di Jawa Barat.

Mengingat peran Teuku Markam yang begitu besar dalam bisnis dan perekonomian Negara Indonesia, beliau pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno, Ungkap para orangtua Yang hidup zaman Presiden Soekarno .
Peran Teuku Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya pemerintahan presiden Soeharto. Putra asli aceh Teuku Markam ditahan selama delapan tahun lamanya dengan tuduhan terlibat PKI. Harta kekayaan Teuku Markam diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Teuku Markam Pernah mencoba bangkit setelah keluar dari penjara, tapi tidak bertahan lama. Tahun 1985 Teuku Markam meninggal dunia, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Semoga Teuku Markam dilapangkan kuburnya.

Ahli waris Teuku Markam hidup terlunta-lunta sampai sampai ada yang menderita depresi mental. Setelah kekuasaan Orba berakhir, Nama baik beliau tidak pernah direhabilitir. Anak-anak Teuku Markam mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya dengan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Almarhum.

Sumber: Buku berjuang

Dono Warkop dan peristiwa malari

DONO WARKOP DAN PERISTIWA MALARI.
_____________________________________________

Malari (Malapetaka Limabelas Januari) adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan berujung pada kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974.

Peristiwa Malari juga dianggap sebagai perlawanan pertama yang digalang mahasiswa sejak Orde Baru berkuasa. Awal tahun 1973, pemerintahan Presiden Soeharto - Orde Baru, mengambil keputusan besar dalam kebijakan perekonomian Indonesia dengan melakukan kerjasama dengan pihak asing sebagai penanam modal di Indonesia. Mahasiswa menilai kebijakan itu malah semakin merugikan bangsa.

Bentuk penolakan mahasiswa saat itu dilakukan dengan aksi masa dan menentang kedatangan (PM) Jepang, Tanaka Kakuei ke Jakarta. Kelompok mahasiswa yang dikomandoi Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia, Hariman Siregar, masih mengadakan diskusi dari perwakilan berbagai kampus untuk rencana aksi selanjutnya menentang kedatangan PM Jepang itu. Ketika itu Wahyu Sardono (Dono Warkop) masih berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Indonesia, bersama anggota Warkop lainnya, Kasino dan Nanu, turut serta dalam aksi itu.


Dalam peristiwa malari, menurut wartawan senior Budiarto Shambazy, yang menjadi saksi pada peristiwa itu, menceritakan bagaimana Dono dengan berani menghadang serbuan aparat keamanan yang saat itu menyerbu kampus Universitas Katolik Atmajaya, Semanggi, Jakarta. Dono tak gentar berhadapan dengan aparat keamanan, dengan menggunakan selang hydrant demi menyelematkan ribuan mahasiswa yang lari tunggang langgang masuk ke dalam kampus.

Begitu juga saat Dono mengarahkan selang hydrant me barisan aparat keamanan yang berada di jalur kanan Jalan jend Sudirman. Dono, seseorang yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya. Bersama Warkop, Dono tidak hanya membawakan selera komedi biasa, Warkop juga dikenal dengan gaya humor satire yang sering  menyentil kondisi politik di Indonesia.  “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang” menjadi jargon Warkop yang cukup populer, sering menjadi penghias menjelang ditayangkannya film-film Warkop. Jargon itu juga hendak mengajarkan tentang arti kebebesan yang bertanggungjawab. Bukan sekadar untuk merayakan, menikmati, tetapi juga mesti diperjuangkan, dipertahankan; agar kelak tidak berubah menjadi penindasan.


Sumber:

Buku:
Judul            : Senggol Kiri Senggol Kanan
Genre           : Novelet
Penulis          : Dono
Penerbit   : Jakarta, Gramedia, 2009
Halaman   : Hlm 136 ; 11 x 18 cm
ISBN       : 978-979-22-4894-4

Bung Karno Mencari dan Menemukan Tuhan

Bung Karno Mencari dan Menemukan Tuhan  Ketika seseorang sedang dirundung masalah yang sangat berat dalam hidupnya, tidak ada yang sa...